kuceritakan pada dunia

Kamu tega …

Posted by: pam on: 22 Mei, 2009

selingkuhAku berharap semoga masalah ini tuntas sebelum aku harus turun di halte Cawang UKI dan melanjutkan perjalanan pulang ke anak dan istriku.

“Kamu masih gak ngerti juga ya? Justru kulakukan ini karena aku terlalu mencintai kamu.” Suaranya terisak.

Aku menoleh melihatnya. Sejenak mata kami bertatapan. Ada telaga di matanya. Aku mengalihkan pandangan ke luar. Jalanan tidak terlalu penuh malam ini. Tapi aku membayangkan hatinya pasti sesak.

“Aku sakit. Hatiku sakit. Bohong kalau aku tidak merasa sakit dengan perpisahan ini. Kurang apa aku selama ini? Kamu tega…. Aku gak nyangka banget.”

Suaranya makin lirih. Setengah berbisik. Tapi kepedihan semakin terasa. Aku memandangnya dari pantulan pintu kaca transjakarta yang kami tumpangi. Lagi-lagi mata kami bertemu. Sekejap. Kali ini dia yang membuang pandangan ke arah lain.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku bahkan yakin dia tidak ingin mendengar jawabanku.

“Sudahlah mas, memang lebih baik kita berpisah saja. Aku pikir itu yang terbaik buat kita berdua. Hubungan ini tidak akan pernah berhasil.”

Baca entri selengkapnya »

Selamat jalan Kiki …

Posted by: pam on: 27 Februari, 2009

kematianAku meletakkan telepon dengan gemetar. Aku masih berharap bahwa kabar itu tidak benar. Aku malah masih menunggu Rosa menelepon lagi dan mengatakan bahwa dia cuma bercanda. Tapi tidak. Kabar kematian itu benar adanya.

Aku menangis dalam diam. Dengan dada yang tiba-tiba terasa berat.

Selamat jalan Kiki …

***

Kiki adalah anak tetangga kami di ujung gang. Anak perempuan berbadan tegap dengan penampilan tomboy. Cantik. Tidak banyak anak seusia dia di gang kami. Hanya dia dan Angga. Tidak heran kami sering menjodoh-jodohkan dia dengan Angga. Tidak jarang kami menggoda Angga, bahwa Kiki titip salam. Angga hanya tertawa mendengarnya.

Ketika kemudian Angga masuk ke Seminari, kadang-kadang Kiki menanyakan kapan Angga pulang. Tetapi setiap kali Angga pulang, bahkan dia tidak pernah menyapa Angga. Paling hanya lewat depan rumah dan sesekali melihat ke arah rumah kami.

Katanya (ibunya pernah bercerita) beberapa kali dia berpapasan dengan Angga di jalan. Mau menyapa selalu gak jadi. Malu katanya. Takut nanti Angganya cuek. Duuh …

Dan kalau ketemu aku, seringkali dia menyapaku dengan wajah malu-malu. Bapak Detha mau ke mana? Pertanyaan standar yang selalu dikatakan ketika kami bertemu. Tidak akan pernah lagi aku mendengar pertanyaan itu dari kamu, Ki.

***

Masih teringat dengan jelas kejadian hari itu. Kiki naik motor tanpa helm dan berhenti di jalur kiri dengan ragu. Padahal lampunya jelas memberi tanda bahwa dia akan membelok ke kanan. Pasti dia ragu. Pertigaan itu memang cukup ramai. Aku berhenti di belakangnya dan memberikan tanda untuk dia segera maju dan membelok ke kanan. Mungkin dia tidak mengenaliku. Tapi toh dia mengambil ke kanan dan meneruskan perjalanan. Terlihat kikuk di antara kendaraan dan angkot yang memang cukup banyak hari itu. Dan dia melaju. Agak terlalu cepat menurutku.

Sempat kami ke ceritakan ke ibunya mengenai kejadian hari itu. Dan menitip pesan supaya dia lebih berhati-hati dan tidak ngebut. Terlalu berbahaya. Apalagi – seperti kebanyakan remaja seusia dia – selalu naik motor tanpa pelindung kepala. Padahal helm terlihat jelas tergantung di motornya.

Aku tidak pernah menyangka bahwa dia harus kembali ke pangkuan Illahi dalam usia semuda itu. Kabar yang aku terima pagi ini, dia meninggal karena tabrakan. Di kelokan jalan itu. Aku belum jelas benar apa yang terjadi, karena Rosa meneleponku dengan tersedu.

Sekali lagi … selamat jalan Kiki.

Aku harus tidak bisa menyerah …

Posted by: pam on: 13 Februari, 2009

“ Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa”.

( 5 cm )

Aku kangen emak ….

Posted by: pam on: 11 Februari, 2009

Aku berhenti melangkah. Perlahan aku membalikkan badan dan melihat sosoknya yang terlihat lelah. Melihatku berbalik, dia mengangkat pandangannya dan mengulang kalimat terakhirnya.

” Iya nih. Gak tahu kenapa, tiba-tiba aku kangen ibuku. “

” Padahal baru ketemu tadi malam loch … ,” sambungnya sambil menyenderkan badan.

” Ya sudah. Ditelpon aja mas. ” Aku menjawab sambil pamitan keluar dari ruangannya. Dari balik kaca, aku melihat dia sudah tenggelam lagi dalam kesibukan kerja yang akhir-akhir ini memang lebih meningkat dari biasa.

Yang tidak terlihat adalah ~ dalam hati ~ aku sibuk mengingat, kapan aku terakhir kali menyapa emak. Dan tiba-tiba kerinduan menyeruak dan membuatku sejenak merasa sesak.

“Aku kangen emak …. “

jenuh ini membunuhku …

Posted by: pam on: 22 Januari, 2009

aku merasa
kita menjauh
dan enggan untuk bersama
atau sekedar menyapa….

menjelma menjadi sosok asing

bersembunyi dibalik luka
menjilat perih
mengasah cakar
dan menunggu waktu
untuk saling meluka

aku masih di sini
menghitung lara
tanpa pernah tahu
kapan bisa melabuh rindu

jenuh ini
terasa membunuhku ….

Arsip

RSS Cinta Bening

  • Pesona Kesederhanaan 6 Desember, 2009
    Siapa bilang masak itu ribet dengan bumbu? Hari ini aku membuktikan sendiri, bahwa masak dengan bumbu sederhana saja bisa menciptakan sajian dengan citarasa istimewa. Bukan sekedar “nggak kalah dengan masakan restoran” tapi bisa jadi jauh lebih nikmat. Sop Kakap Pangandaran Bahan : 1/2 kg kakap segar (fillet dan kepalanya di belah dua. Lumuri den […]
    Ning
  • Kumohon, berhentilah. 24 November, 2009
    Kumohon, berhentilah menyemai janji-janji di hatiku. Hatiku adalah lahan yang subur untuk menumbuhkan janji-janji itu menjadi harapan yang mekar dan indah hingga rasanya terlalu sakit untuk kamu tebas begitu saja. Kumohon, berhentilah menyemai janji-janji di hatiku, sesederhana apapun itu. Aku tidak pernah meminta terlalu banyak, aku tidak pernah berharap me […]
    Ning

RSS Joernal Inne

  • KREMES
    Aku duduk menikmati lelautandan matahari tak datang.Kremes setengah bulat di tangan kiri.Kremes cokelat emas.Manis, sedikit gurih dan... berair?Kremes diantara telunjuk dan ibu jari.Ubi parut, gula jawa dan air mata29 November 2008(dari buku 100% Dianggap Buku Puisi)
  • GAM
    (Gerakan Ayo Menulis) : Taufik Al Mubarakbebankah bila tak di pundaksulitkah bila tak bisa tidakpamit menepi bukan karena sepitapi hatimu kembali ke sisi ibu pertiwimendulang buah gemilangdari beliabelia yang tak boleh hilangditelan jamanditelan kekejamankau ajak mabuk katakatadengan lagu bernada tak burukyang penciptanya terpurukditelan bangsa yang hampir b […]

RSS Buku Harianku

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Yuk Nulis

  • Goyah… 16 Desember, 2009
    Perjalanan ini terasa semakin berat. Langkah kakiku semakin tersendat. Semakin sering kuseret kakiku, memaksanya untuk terus melangkah maju. Terseok-seok, bak seorang pincang yang gemetar, tak punya kepercayaan diri. Apa itu semangat? Aku kini tak m...
    angelli
  • Kepingan Natal….. 15 Desember, 2009
    (Fridona Gultom) today Tues, 15 dec 2009 Kurang lebih 9 thn semenjak aku menginjakan kaki ku di kota bandung untuk melarikan diri dari sesuatu yang yang tidak pasti, selesai masa sekolah ku di sma aku melangkahkan kaki ke kota bandung dimana kota ini belum pernah aku kenal sebelumnya. Hanya dengan petunjuk sepupu yang kuliah di kota bandung [...]
    dodogtg

Kegiatanku