kuceritakan pada dunia

illustrasi (diactrographic.blogspot.com)

Kegembiraan belum lagi usai. Kabar keberhasilan itu masih terasa hangat. Ketika badai menghempaskan pijar harapan yang sempat mampir di jejak kehidupan.

Aku lumpuh. Duniaku seakan terhenti. Aku mendapati diriku terduduk di ujung waktu. Aku ingin marah. Dan mengeluarkan sumpah serapah pada anganku yang terlalu indah. Tapi pasti semuanya tak akan meninggalkan arti. Keputusan sudah ditentukan. Dan aku masih terdiam di sini. Mengunyah sepi dalam kegamangan yang terasa tak bertepi.

Duh Gusti … peran apa yang harus kulakoni saat ini?

Yantje M. Wattimena

Yantje M. Wattimena

Jujur, saya tidak terlalu dekat dengan adik ipar saya yang satu ini. Bukan karena ada masalah di antara kami. Tapi lebih dikarenakan kami jarang ketemu. Jarak antara Cibinong – Condet (yang sebenarnya tidak terlalu jauh), tidak membuat kami sering ketemu. Dan kalaupun ketemu – di rumahnya di Condet, tidak juga membuat kami banyak ngobrol. Hanya ngobrol seperlunya.

Yang jelas, yang masih saya ingat sampai sekarang, kalau saya datang, dia akan sibuk membuat saya merasa, bahwa saya adalah tamu yang penting. Tamu adalah raja, berlaku di rumahnya.

“Mas .. mau makan mas? Kopi … kpoi ….. Ada roti. Mau? Seperti kalau kita menghubungi call center, kalimat-kalimat itu selalu meluncur dengan logat Ambon yang khas. Mirip template. Tidak banyak berubah. Selalu itu yang ditawarkan. Mau makan? Mau Kopi? Bedanya dengan salam yang diucapkan oleh call center, orang Ambon yang memelihara kumis dan jenggot panjang ini, mngucapkan dan menawarkannya dengan ketulusan hati. Saya bisa merasakan itu ….

Dan ketika dia sudah menyuguhkan kopi, biasanya kami jarang berbincang lagi. Dia akan asyik nonton berita di TV dan saya paling ikutan nonton berita sambil menikmati kopi suguhannya. Sesekali saya akan mengomentari berita. Dan dia – biasanya – akan berkomntar pendek.

Tidak berbeda kalau sekali waktu dia datang ke rumah kami di Cibinong. Setelah basa-basi menanyakan kabar, dia akan langsung menonton berita dan saya juga akan langsung ‘sibuk’ di depan komputer, seperti biasa. Tidak banyak yang kami bicarakan. Mungkin memang tidak ada topik yang pas untuk kami obrolkan.

Obrolan terpanjang saya malah terjadi ketika dia sudah tidak sadar. Itu juga kalau masih bisa dibilng sebagai sebuah obrolan.

Baca entri selengkapnya »

image

TPU Pondok Rajeg - Cibinong

“Tumben sendirian.”

Aku mendengar suara ibu. Ibu mertuaku.

Aku langsung berdiri. Kuraih dan kucium punggung tangannya. Dingin. Mungkin karena masih pagi. Sekilas aku memandang wajahnya.

“Ibu rapi banget. Wangi lagi. Parfum melati ya bu?” Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku malahan balik bertanya

Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung memeluknya. Aura dingin menjamah wajahku. Menjalar ke seluruh bagian tubuhku yang lain. Hmm…  harusnya aku pakai jaket.

“Ibu mau ke mana?” Kutarik ibu duduk di sampingku. Wangi melati makin menguar. Memabukkan. Sekaligus mendamaikan.

“Ibu lagi jalan-jalan aja. Setiap pagi juga ibu jalan-jalan.” Aku melihat ke arahnya. Wajahnya tampak segar. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Kebaya yang dipakainya bernuansa kehijauan. Sekilas aku langsung teringat dengan photonya di kamar belakang. Hanya saja aku tidak yakin, apakah bajunya di photo itu berwarna hijau atau bukan.

Wangi melati makin menyengat. Baca entri selengkapnya »

Jangan Takut, Percayalah.

Jangan takut. Percayalah.

  • In: angga | detha | rosa
  • Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Pas makan bakso Maming, tiba-tiba inget punya postingan tentang bakso juga.

Tadi malam, setelah selesai Bina Iman Agatha Yunior, aku langsung meluncur ke rumah bu Theo. Sebenarnya sih naik motor – gak meluncur. Gimana mau meluncur? Selain badanku gede dan pasti akan menjadi pemandangan aneh kalau aku meluncur sepanjang jalan, toh jalan ke arah rumah bu Theo juga gak rata. Ke rumah bu Theo dalam rangka latihan koor. Untuk tugas misa nanti sore jam 5 dan sekaligus latihan untuk tugas malam Paskah nanti. Latihan koor-nya se … Read More

via kuceritakan pada dunia

aku mengais kata
di antara sore yang memerah kesumba
di sela asa yang berserak tak berupa
sementara di sana
teronggok di sudut senja
bayangmu pias meraja
tertindih tangis hampa
melengos tanpa makna

….

aku hanya terpaku
berkubang seribu rindu

image dari : http://ww2.photolibrary.com/comp.html?similar_id=19685357

Rumah Sakit Umum A. Yani.
Metro – Lampung Tengah.

Saat itu aku masih tercatat sebagai salah satu siswa di Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Beberapa kejadian masih teringat sampai sekarang. Atau teringat lagi tepatnya …

Seorang laki-laki lusuh yang kelihatan sekali orang kampung. Berdiri kebingugan tidak tahu di mana dia harus mendaftar untuk berobat.

Sepasang suami istri – setidaknya begitulah menurutku – berdiri kebingungan di depan apotik karena uangnya kurang untuk menebus resep obat.

Seorang pemuda datang dan bertanya, apakah test laboratorium ini memang harus dilakukan? Kenapa? Biayanya saya gak punya mas.

Kali lain, orang yang lain lagi, berdiri kebingungan di dekat kantin Rumah Sakit. Istrinya harus dirawat … tetapi dia tidak membawa memiliki uang.

***

Sore ini, aku teringat kembali kejadian – kejadian itu.

“Maaf mbak, uangnya gak ada kalau  265 ribu. Tadi udah dipakai untuk bayar pendaftaran”
“Adanya berapa?”
“Cuma ada 200 ribu mbak.”
Perempuan petugas apotik itu menghilang. Tidak lama kemudian dia balik lagi.
“Ya sudah. Seratus sembilan puluh lima saja.”
“Dengan harga segitu, obat apa yang belum ketebus ya mbak?”
Wanita itu memandang laki-laki di depannya seakan melihat manusia berkepala kuda.
“Katanya uangnya gak cukup. Gimana sih?” Kali ini suaranya agak meninggi.

Laki-laki itu kembali ke tempat duduk. Masih setengah bingung. Apakah obatnya yang dikurangi atau memang harganya bisa kurang.

Percakapan berikutnya.

“Pak … ini dibawa ke laboratorium. Bayar dulu ke tempat pendaftaran yang tadi ya …”
Laki-laki itu menemui tetangga yang mengantarnya ke rumah sakit. Setelah bicara bisik-bisik, dia kembali ke tempat pendaftaran dan membayar biaya laboratorium.

“Pak … silahkan dibayar biaya rongetn-nya, lalu nanti kembali ke sini dan ibu langsung dipindah ke ruang ruang rawat inap.”

Lagi-lagi berulang. Kali ini lelaki itu menerima uang dari anak sang pengantar. Di tangannya masih ada resep – infus – yang harus ditebus.

Sore ini aku teringat lagi kejadian-kejadian Itu.
Bedanya .. kali ini – akulah laki-laki itu.

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 34,290 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: