kuceritakan pada dunia

Balada bakso

Posted on: 25 Maret, 2007

Gambar bakso tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Hehehehehe

Tadi malam, setelah selesai Bina Iman Agatha Yunior, aku langsung meluncur ke rumah bu Theo. Sebenarnya sih naik motor – gak meluncur. Gimana mau meluncur? Selain badanku gede dan pasti akan menjadi pemandangan aneh kalau aku meluncur sepanjang jalan, toh jalan ke arah rumah bu Theo juga gak rata.

Ke rumah bu Theo dalam rangka latihan koor. Untuk tugas misa nanti sore jam 5 dan sekaligus latihan untuk tugas malam Paskah nanti. Latihan koor-nya sendiri gak ada masalah. Sudah lumayan lancar dan tinggal latihan teralkhir dengan orchestra nanti.

Yang ingin aku ceritakan di sini adalah mengenai bakso. Tahu kan bakso. Yang bentuknya bulet – bolong tengahnya .. eh bukan .. Itu donat ya?  Hihihihi …

Latihan koornya emang gak pakai lempar-lemparan bakso. Atau sekalian belajar bikin bakso lalu dijual buat beli seragam. Enggak lah. Yang akan aku ceritakan adalah gagalnya seorang sontoloyo seperti aku untuk menikmati bakso.

Aku bukanlah penikmat bakso. Jadi ketika latihan koor selesai dan sampai pada puncak acara … hehehehe, yaitu makan hidangan yang sudah disediakan oleh tuan rumah (laa iya laaah, masa mau makan makanan yang diumpetin di tempat lain hehehehe), aku tidak begitu bersemangat, karena yang dihidangkan adalah bakso.

Ya .. bakso. Ingat sodara … aku bukan penikmat bakso. Jadi setengah ogah-ogahan, aku ikut ngantri dan mengambil 4 biji bakso (eh bakso pakai satuan biji kan ya?) lalu mengambil duduk di pojok dekat tangga dan mulai makan. Dan disinilah masalahnya dimulai. Ternyata baksonya enak. Sumpah … enakkk bangeet. Gak tahu emang yang bikin baksonya jago atau karena gratis. Hehehehehe

Tapi yang pasati baru kali ini aku merasa menyesal dan langusung ingin ngaku dosa ke Romo (gak nyambung!) karena cuma ngambil bakso 3. Mau ngambil lagi malu kan? Pas lagi mikir-mikir gitu, bu Theo-nya nawarin. “Pak Yus … nambah pak.” Wah pasti dia ngeliat mukaku yang sudah kelihatan sedang memikirkan rencana jahat gitu kali ya … hehehe. Mendapat tawaran seperti itu, aku kan malah menjadi malu kuadrat. Maka dengan tampang yang aku usahakan meyakinkan, aku menjawab. “Sudah bu. Terima kasih …” Kelihatannya bu Theonya sih, dari mukanya, kayaknya gak percaya dengan jawabanku. Mungkin karena suaranku kedengaran grogi dan gemetar gitu.

Nah … ketika Detha mendatangi aku dan bilang minta makan, aku langsung menemukan ide yang aku anggap sangat brilliant. Aku akan ngambil bakso untuk Detha agak banyakan eh … yang banyak sekaligus dan nanti kalau Detha gak habis, aku tinggal nerusin makan baksonya. Ide bagus kan? Gak sia-sia dulu aku pernah jadi Ketua Kelas 2 tahun berturut-turut waktu SD.

Jadi aku sekali lagi ikut ngantri di meja bakso itu. Aku lihat baksonya udah lompat-lompat gak sabaran untuk diambil. Pakai teriak-teriak kayak mahasiswa demo. Bahkan ada bakso yang kelihatan badung banget malah udah berusaha manjat pinggiran baskom mau naik sendiri ke piring. Phewww .. Ini pasti halusinasi karena aku pengen banget makan bakso.

Aku ngambil bakso kira-kira 9 atau 10 biji. Duh bener gak sih satuan bakso tuh biji? Lalu setelah aku campur dengan bumbu-bumbu lain aku duduk lagi. Dethanya langsung mengambil duduk dengan teman-temannya yang lain menikmati baksonya. Aku menunggu Detha memanggil dan bilang … pak udah. ga’ habisss ….

Aku hampir gak konsentrasi pada cerita pak Ubaldus yang berapi-api (walaupun gak sampai keluar api dari rambutnya…) tentang gempa yang konon adalah karena alat yang dibuat dan sengaja dipasang oleh AS untuk mengacaukan
Indonesia. Aku juga hampir gak mendengar ketika pembicaraan mereka beralih tentang Hj. Irene. Aku fokus hanya pada satu hal. Bakso, bakso dan bakso. Ya Bakso yang dimakan Detha.

Aku sudah mulai khawatir ketika bakso di piring itu tinggal 3 biji. Lalu aku mulai merasa kram di perutku ketika akhirnya bakso menyusut tinggal 2 biji. Dan akhirnya aku pingsan ketika mangkok Detha kosong dan menyisakan cairan berwarna kecoklatan karena kecap. Aku merasa hidupku berakhir di sini. Aku merasakan hidupku sudah tidak ada gunanya lagi. Bakso yang aku incar ternyata benar-benar tidak mau aku nikmati.

Dan ketika Detha menyodorkan mangkok baksonya, aku hanya bisa pasrah. Dengan langkah lunglai (sehingga harus dipapah oleh beberapa orang hehehehe ….) aku meletakkan mangkok itu di tempat cucian piring di belakang. Sambil kembali ke tempat aku duduk sebelumnya, aku masih sempat melirik pasukan bakso yang masih tersisa di meja. Masih banyak. Masih ada sekitar 3 pleton lagi.

Selamat tinggal bakso. Hiks.

3 Tanggapan to "Balada bakso"

hahahaaa….
dasaaarrr..
ga gado-gado, ga baso
sikaaattt…
*masih tabah dalam penantian panjang*

menanti gado-gado campur bakso. sabar ya non ….

Sudah lama enggak makan bakso, bakso sekarang masih pakai sambel ya? Cabek deh!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 34,601 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: