kuceritakan pada dunia

Jumat Agung : Sudah ada orangnya

Posted on: 7 April, 2007

  • In: hari-hari
  • Komentar Dinonaktifkan pada Jumat Agung : Sudah ada orangnya

Jumat Agung. Pukul 14:05. Aku memacu shogi-ku dengan kecepatan lumayan cepat, karena Rosa sudah gerutuan takut kami telat dan harus berdiri sepanjang misa seperti pada Minggu Palma yang lalu. Untung jalanan pertigaan di pasar Cibinong cukup bersahabat dan membiarkan kami melaju tanpa harus nyelip di antara angkot seperti biasanya. Dengan tergesa-gesa, aku memarkir motor, sementara Rosa dan Detha langsung menuju ke Gereja.

Bergegas aku menyusul mereka ke area gereja, ketika aku baru sadar, tadi tidak janjian mau duduk di sebelah mana.

Aku menyusui halaman SMP dengan ebrjalan pelan. Kondisi mataku saat ini tidak bisa meliaht dengan jelas walaupun sudah dibantu kacamata tebal ala Gus Dur. Aku mengambil (atau menghembusklan ya) napas lega, ketika mendengar Detha yang memanggil aku. Di halaman SMP. Ya sudah. Gak masalah. Toh gak mungkin lagi kalau memaksakan diri mau acri tempat di dalam gereja. Pasti sudah tidak ada lagi tempat duduk yang kosong. Mungkin umat yang di dalam gereja itu sudah berangkat dari jam 12 tadi atau malah mereka tidak pulang setelah jalan Salib pagi tadi. Hehehehe

Setelah mengucap doa singkat, aku memperhatikan orang lain di sekelilingku. Yang langsung menarik perhatianku adalah, banyaknya benda-benda yang tiba-tiba saja berlagak alim dan kelihatannya akan ikut misa. Yang pasti bukan karena ini adalah Pekan Suci, lalu semua benda itu ikut bertobat. Karena yang aku maksudkan adalah buku Puji Syukur, Tas, Buku Perayaan, topi .. ya topi, yang sudah nangkring dengan manis di sekelilingku. Hm … ini pasti dimaksudka nuntuk “pesan tempat” duluan. Boleh juga.

Mungkin aku harus coba cara ini. Mungkin aku bisa tarok jaket dan kartu nama di bangku di dalam gereja supaya meyakinkan bahwa bangku itu memang sudah ada yang booking. Atau aku tarok helm aja kali. Biar lebih meyakinkan. Hehehe

Dalam sekejap, bangku sudah penuh. Semakin banyak umat yang hadir. dan beberapa kali orang kecele, karena mnganggap bangku di sebelah kami kosong. Aku merasa gak enak juga, karena setiap kali ada yang mau duduk aku selalu memberitahu bahwa sepertinya bangu itu sudah ada yang pesan. Sedangkan yang meletakkan baran-barang itu malah diam saja, karena mereka memang meletakkannya di bangku di belakang mereka dan tepat di barisan bangku di depan kami duduk. Lama-lama aku merasa bahwa semua orang mulai ‘jengkel’ terutama para petugas ta-tib yang rapi berseragam batik itu. Seolah-olah mereka menuduh kami telah mengangkangi bangu itu padahal orangnya belum datang.

Bah. Kenapa bisa begitu ya? Akhirnya aku memejamkan mata dan berlagak sedang berdoa. Padahal aku hanya bergumama lirih. Tuhan, ampunilah merka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Blog Stats

  • 34,589 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: