kuceritakan pada dunia

Sudah paskah kita?

Posted on: 15 April, 2007

  • In: hari-hari
  • Komentar Dinonaktifkan pada Sudah paskah kita?

Pas, artinya tepat. Sesuai. Judul di atas merupakan sebuah tanya kepada kita semua. Apakah kita sudah pas, sudah tepat, dalam menyambut dan merayakan Paskah?

Benar. Paskah memang sudah kita lewati. Persiapan yang sudah kita awali sejak Minggu Palma, pastilah tidak sebatas hanya pantang dan puasa saja. Di lingkungan – lingkungan, diadakan pertemuan APP yang mengusung tema cukup ‘berat’. Pemberdayaan Kesejatian Hidup – Dalam Hubungan Sosial. Panitia Paskah sudah memulai gawe besar mereka. Kelompok Koor sudah mulai berlatih. Para Pasionis juga sudah ditunjuk dan memulai latihan mereka, agar bisa bertugas dengan baik. Putra-putri Altar juga sudah mulai memilih siapa-siapa yang akan ditugaskan selama Pekan Suci nanti. Ya. Sebuah persiapan untuk menyambut dan merayakan Paskah dengan lebih meriah.

Tapi apakah kita sudah benar-benar Paskah?

Hari ini, Paskah itu sudah kita lalui. Dengan perayaan dan Misa yang sangat meriah. Tenda harus digelar sampai di ujung jalan tempat seorang ibu menggelar pecel dagangannya. Ada yang bertanya, tahun depan kita harus pasang tendanya sampai di mana ya?

Layar dan projector terpasang dengan rapi supaya umat yang tidak mendapatkan tempat di dalam gereja juga bisa ‘menikmati’ pemandangan yang ‘diharapkan nyaris sama’ dengan umat yang beruntung bisa duduk di bangku gereja yang nyaman. Petugas Tatib menggunakan seragam rapi nan gagah untuk mengatur dan menertibkan. Semua Koor yang bertugas pada pekan suci tampil di atas rata-rata, karena mereka pasti berlatih lebih dari biasanya dibandingkan pada saat mendapat tugas Misa biasa. Ada yang bertugas dengan diiringi gitar. Bahkan ada yang mengusung String Orchestra dan membuat susana Malam Paskah lebih semarak. Meminjam ucapan Romo Harsono, kita menjadi tidak ngantuk karena ada suara jedak-jeduk.

Hanya saja. Tersisa sebuah pertanyaan. Di manakah Tuhan, ketika semua kemeriahan itu digelar? Apakah kita sudah menyertakan Tuhan dalam hati kita?

Sudah pas-kah Paskah kita, ketika dengan tanpa merasa bersalah kita menggelar semua bawaan kita (puji syukur, buku perayaan, payung, tas, topi) di sekitar kita, untuk memastikan tempat duduk bagi orang-orang yang sudah memesan pada kita, padahal pada saat yang sama, saudara kita yang lain – harus berdiri karena status tempat duduk di sekililing kita, sudah kita nyatakan ‘sudah ada yang punya‘?

Sudah tepat-kah Paskah kita, ketika pada saat mengeluarkan kendaraan dari tempat parkir, kita masih bersungut-sungut dan mengumpat hanya karena kendaraan lain di depan kita menghalangi jalan kita?

Paskah yang bagaimana yang kita dapat, ketika kita bahkan tidak sudi lagi untuk sekedar menyapa saudara kita, hanya karena selama ini dia juga tidak pernah hadir di setiap kegiatan lingkungan kita?

Makna Paskah yang bagaimana yang kita rasakan, ketika kita tidak peduli lagi pada kaum miskin yang terpinggirkan?

Banyak pertanyaan yang masih harus kita renungkan pada saat Paskah sudah justru sudah kita lewati.

Janji yang kita ucapkan pada malam Paskah, bahwa kita bersedia untuk menyukseskan tema APP, seharusnya tidak hanya terhenti pada diskusi – diskusi pada pertemuan lingkungan dan terlupakan setelah masa Paskah usai – seperti (mungkin) terjadi semala ini. Seharusnya Paskah justru awal dari kesediaan kita untuk bersama-sama menerapkan tema tersebut dalam kehidupan nyata kita sehari-hari.

Sudah siapkah kita? Atau kita akan melupakannya dan kemudian hanya menunggu Paskah tahun depan (yang juga pasti akan segera kita lupakan lagi?

Selamat Paskah.

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 34,601 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: