kuceritakan pada dunia

Maaf ya Tuhan

Posted on: 29 Agustus, 2007

Aku hanya diam. Dadaku terasa sesak. Hanya itu yang kumampu saat ini. Aku tergugu memandangi surat ijin pulang lebih awal yang belum lagi ditandangani oleh atasanku. Ijin pulang cepat ~ 16:30 s/d 17:30. Berarti aku minta ijin pulang 1 jam lebih awal.

Ketika aku menyampaikan permintaan ijin itu melalui email, reply balasan menanyakan ‘ada keperluan apa?’ Aku memberitahu (melalui email juga) bahwa ada ibadat di lingkungan jam 19:00.

Setelah itu … sudah gitu aja. Tidak ada lagi kabar.

Aku melirik jam di atas mesin fax di seberang ruangan. Pukul 17:20. Itu artinya aku tidak mendapat ijin. Mungkin karena aku memberitahu bahwa ibadat mulai jam 19:00. Perhitungan sederhananya, setidaknya aku masih punya waktu 1,5 jam kalau pulang tepat waktu jam 17:30.

Mungkin ini adalah kesalahanku juga. Aku tidak memberitahu secara jelas   mengingatkan bahwa aku tinggal di Cibinong dan perjalanan pulangku membutuhkan waktu minimal dua setengah jam. Atau mungkin akunya aja yang goblok ya. Milih tempat tinggal kok jauh banget. Hehehe …

Ah … sudahlah. Mungkin memang kegiatan pribadi tidak bakal bisa seiring dengan pekerjaan. Setidaknya, kegiatanku pastinya tidak boleh mengganggu jam kerjaku.

Walaupun (sebenarnya) aku juga tidak minta ijin tiap hari … Kadang aku merasa betapa gampangnya orang lain pulang lebih awal. Bahkan hanya untuk sekedar ke dokter gigi.

Jadilah sore itu aku memacu shogyku melebihi batas kecepatan yang aku tentukan sendiri. Aku menjadi alap-alap jalanan. Aku menyerobot trotoar. Berulang kali aku mendapat pelototan dari pengendara motor dari arah depan yang jalurnya sudah aku kangkangi duluan. Dengan penuh amarah, aku membunyikan klakson ketika ada angkot yang (seperti biasa) berhenti dengan santainya di tengah jalan.

Hal yang selama ini justru aku paling tidak sukai dari pengendara motor lain ketika ada di jalanan. Keselamatan menjadi prioritas nomor sekian. Tak kupedulikan lagi bahwa pandangan mataku tidaklah terlalu baik ketika malam sudah menyapa.

Itupun hanya bisa mengubah waktu tempuh 30 menit lebih cepat.

Malam itu aku memulai ibadat, 30 menit terlambat dari yang dijadwalkan. Padahal akulah salah satu perintis aturan, bahwa rapat atau ibadat harus dimulai tepat waktu sesuai yang sudah disepakati.

Dan lebih parah lagi, aku bahkan tidak sempat pulang dulu. Artinya, aku belum mandi.

Maaf ya Tuhan …

2 Tanggapan to "Maaf ya Tuhan"

Hihihi… Tuhan pasti memaafkan. Yang penting hatinya…

GBU.

Saya rasa hati Tuhan tergetar karna haru melihat anda begitu mengebu2 mempertaruhkan keselamatan anda karena ingin hadir bersekutu dgn Dia. Dan perjuangan anda mencari nafkah dgn jarak yg jauh dgn mengendarai motor membuat saya harus angkat topi salut kepada anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Blog Stats

  • 34,589 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: