kuceritakan pada dunia

Bapak Jahat !!!

Posted on: 1 September, 2007

ngambek.jpgSenja beranjak turun. Gelap merambat memeluk bumi. Malam mengintip dari balik rimbunan batang bambu yang meranggas. Gerah …

Aku mencelupkan kain pel dan memerasnya perlahan. Lalu melanjutkan mengepel ruang tamu kami yang tak seberapa luas. Sesekali aku mendengar tangisan dari balik kamar.

Terisak …
Lirih …

Ketika untuk kesekian kalinya aku membilas kain pel lagi, sekelebat ingatan menyeruak. Ingatan tentang sepasang mata yang basah oleh air mata dan menatap tajam ke arahku. Dari  bibir mungil pemilik sepasang mata itu, yang akhir-akhir ini senang sekali menyenandungkan lagu “Allah Peduli”, terasa sekali menghunjamkan amarah langsung kepadaku.

BAPAK JAHAT!!!” Tangisnya pecah dan dia berlari, menyembunyikan tangisnya di dalam kamar.

Aku menghela napas …

Aku mengingat kembali kejadian beberapa menit sebelumnya. Ketika sepasang kaki mungil yang kotor karena bermain dari luar, begitu saja menerobos masuk dan meninggalkan noda kecoklatan dari depan pintu hingga ke arah dapur. Biadadari kecil itu rupanya kehausan dan langsung mencari minum. Tidak dipedulikannya bapaknya yang masih belum selesai mengepel lantai.

“Detha gimana sih? Gak liat bapak lagi ngapain?” Aku merasa suaraku menggelegar di luar kontrol.

“Lagi ngepel.” jawabnya sambil meletakkan gelas di dekat TV. Langkahnya terhenti ketika matanya menatap lukisan tapak kaki berwarna kecoklatan yang membentang dari dapur sampai ke pintu depan.

“Ya.. kotor lagi ya… Sini Detha yang pel.” katanya sambil melangkah dan mencoba mengambil gagang pel dari tanganku.

APA-APAN SIH??” suaraku semakin meninggi. Sejenak mata itu mengerjap, mungkin kaget dengan kerasnya suaraku. Tapi hanya sejenak. Dan tanpa bicara dia tetap mencoba merebut gagang pel. Dengan keras aku menyentakkan peganganku. Dalam hitungan detik, tangannya terlepas. Kelihatannya tangannya kesakitan.

Sekali lagi dia mencoba merebut gagang pel dari tanganku. Aku bertahan. Dia bersikeras. Tapi apalah daya tenaga mungilnya melawan tenaga seorang bapak yang sedang dirundung kesal. Dengan sebuah sentakan yang kasar, sekali lagi pegangannya terlepas.

Matanya berkaca-kaca. Sambil menghambur ke kamar membawa tangis, dia masih menyempatkan untuk melepaskan amunisi terakhirnya. “BAPAK JAHAT !!!

Masalah yang bertubi-tubi menghajarku akhir-akhir ini, membuat aku kadang merasa tidak mengenali diriku sendiri. Aku sering mudah marah. Aku gampang tersinggung.

Untuk urusan ngepel, kadang-kadang aku juga membiarkan bidadari kecil itu ngepel semau dia. Tidak bisa diharapkan hasilnya akan bersih. Apalah yang bisa diharapkan dari pekerjaan anak yang bahkan kalah tinggi dengan gagang pel. Tapi aku selalu gembira melihat dia dengan serius mendorong-dorong kain pel. Biasanya aku akan membereskan hasil karyanya setelah menggiringnya ke kamar mandi.

Entah kenapa hari itu aku malah melampiaskan amarahku padanya. Padahal mungkin sebenarnya amarah ini harusnya jatah orang yang telah membuatku naik darah siang tadi. Aku memendamnya dan akhirnya … anakku yang jadi tempat sampah aku meluapkan amarah.

Perlahan aku meletakkan gagang pel ke tembok. Aku menghela napas entah untuk ke berapa kalinya. Aku yang salah. Perlahan aku menuju pintu kamar. Aku berhenti sejenak. Suara tangisnya tidak terdengar lagi. Tidurkah dia?

Tanganku terulur untuk membuka pintu, ketika pada saat bersamaan pintu kamar terbuka dari arah dalam. Detha berdiri dengan mata yang masih menyisakan tangis. Dan langsung menghambur ke arahku. Tangisnya pecah lagi. Aku jongkok dan memeluknya erat. Pundakku basah. Aku mengelus perlahan rambutnya.

Belum lagi aku sempat berucap meminta maaf, dari sela-sela tangisnya aku mendengarnya berkata “Maapin Detha ya pak, sudah buat bapak marah.”

Lidahku kelu. Aku mendekapnya makin erat.

Giliran pundaknya yang basah.

8 Tanggapan to "Bapak Jahat !!!"

aduuuuh..jadi sedih. saya juga kadang lupa, kalo beban stress makin numpuk, kita para orang tua sering lupa bahwa mereka gak seharusnya jadi ‘tempat sampah’. biasanya kalo mereka udah nagis diam2 di kamar sampe tertidur, saya jadi nyeseeeel dan nyiumin mereka sambil nangis..😦

nyiumin sambil nangis …

wah hampir sama yah pak sama anak saya, kalo dia bilangnya “Ayah bandelll…” atau “Bunda bandelll nih..”
Ya gitu deh, jadi orangtua harus pintar-pintar kontrol perasaan, dan menyeimbangkannya.
Mendisiplinkan anak sebenernya gak harus dengan emosi kan [saya masih belajar dalam hal ini]

Duh, saya jadi ikut sedih…
Yang sabar ya, Pak. Salam untuk Detha yang telah mengetuk hati Bapak dan semua pembaca blog ini.

GBU

Yah kalo lagi emosi, kita lupa anak kandung yg harus dilindungi. Kalo ga punya anak, mohon2 ama Tuhan agar diberi. Tapi kalo punya kok dikasari? Syukurilah anak adalah kekayaan yang tak ternilai. Anak adalah tititpan Tuhan. Jadi jagalah dengan baik.

Pa’ baru malam ini saya melihat blog bapa’ ternyata semua orang tua mengalami hal yang sama…. demikian pula dengan saya. Wah klo dipikir kita belum pantas dibilang orang tua karena terkadang kita bersikap arogan dan tidak bisa menghargai anak.

duh, jadi terharu mbacanya…
tugas orang tua itu memang sangat berat ya pak… berat tapi indah😉
*salam untuk bidadari kecilnya yah*

bapa saya jg ‘JAHAT’ dengan saya dia sudah membohongi saya n mamai!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 34,589 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: