kuceritakan pada dunia

Kapankah kesalahan menuju kesalehan?

Posted on: 11 September, 2007

Panas menyengat. Kantor sepi karena beberapa teman memutuskan beramai-ramai maksi di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Senen. Aku masih memaku diri di depan komputer. Mencoba berkenalan dan berakrab ria dengan Mandrake 10.1 yang baru terpasang di proxy server di kantor. Putty yang menjadi perantara, membuatku aku harus melotot mempelajari serangkain baris perintah yang dulu pernah aku sebut ‘bahasa dewa’.

Senandung Sebelum Cahaya dari Letto terdengar lembut di siang yang panas itu, ketika handset Nokia yang aku pinjam dari ruang server kantor (karena Sonerku keypadnya rusak) bergetar. SMS diterima. Membawa sebuah kabar duka …

berdukacita.jpgSerasa baru sepenggal waktu, kala seorang sahabat memutuskan untuk meneruskan perjalanannya. Dan hari ini, suami dari seorang teman sekaligus atasanku, dipanggil oleh sang pencipta. Setelah sebelumnya sempat dalam penanganan medis di RS MMC.

Sahabatku memutuskan meneruskan perjalanan pada usia sekitar 45 tahun. Suami temanku yang meninggal hari ini, dipanggil di usianya yang baru 32 tahun.

Masih muda ….

Kita memang tidak pernah tahu kapan kita menyelesaikan kontrak untuk hidup. Kita bahkan seringkali bahwa seaktu-waktu jatah hidup kita ternyata sudah habis. Seringkali kita merasa bahwa untuk sekedar bertobat, kita bilang nanti-nanti saja. Seolah-olah kita masih punya seribu tahun lagi untuk merubah segala kesalahan kita menjadi sebuah kesalehan.

Eh … mungkin bukan kita. Mungkin lebih tepatnya, aku …

Setiap ada kematian, aku selalu diingatkan lagi mengenai jatah hidup. Yang tidak pernah bisa diperkirakan. Tetapi, lagi-lagi, aku merasa bahwa aku tidakpernah mempersiapkandiri. Masih bergelimang salah.

Mungkin sebagian teman-teman masih lebih diberi kemudahan. Karena sebentar lagi mereka memasuki bulan Ramadhan. Bisa leluasa berusaha untuk menghapus kesalahan dan menggapai kesucian.

Sedangkan aku?

Selamat jalan teman …

4 Tanggapan to "Kapankah kesalahan menuju kesalehan?"

Katanya, kita harus selalu berbuat baik dan bertobat seolah akan mati esok …

Itulah bu. Lebih gampang diucapkan, tidak terlalu sulit untuk dihapalkan. Namun sangat susah untuk memulainya. Bahkan sampai saat ini.

Seketika setelah berbuat salah/dosa, kita harus segera bertobat. Tapi seringkali kita tidak merasa habis berbuat salah/dosa.

Eh, mungkin bukan kita, tapi tepatnya: saya.

GBU

semoga kita selalu di berikan jalan oleh allah agar kita bisa menyadari arti dari perbuatan kita dan segera mohon ampun dari -Nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Blog Stats

  • 34,589 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: