kuceritakan pada dunia

Di depan komputer sampai pagi.

Posted on: 22 Oktober, 2007

Aku tidak bisa tidur lagi. Kantukku seakan menguap seketika. Aku duduk di depan meja belajar yang masih porak poranda. Perlahan aku memasang semua kabel dan menyalakan komputer. Kompie yang selama liburan ini seakan bermusuhan denganku. Aku tidak bisa install Adobe Creative Suite 3. Gagal terus. Entah kenapa. Sejenak aku memandangnya dan mencoba berbicara dari hati ke hati. “Kenapa sih kamu tidak mau dipasangi CS3? Apakah karena program itu dari DVD bajakan dan bukan software yang original? Mana bisalah aku beli software original? Buat kebutuhan keluarga aja aku dah pontang-panting.”

Huh. Aku beranjak masuk ke kamar lagi sebelum membawa diriku sendiri pada tahap harus di rawat di RSJ. Aku masuk kamar dan menyalakan lampu.

Detha tidur di pinggir dekat tembok. Memeluk guling kesayangannya dengan posisi yang tidak karuan. Masih teringat ketika akan tidur tadi, dia mendadak bangun lagi dan berbisik di telingaku. “Pak, kita kan belum do’a? Ayo do’a dulu.”

Celananya yang dipakai dari sore tadi – yang sudah kelihatan kesempitan – melorot sampai di bawah pinggang. Perutnya yang gendut beredar ke mana-mana. Perlahan aku merapikan pakaiannya dan menggesernya sedikit ke tengah. Daripada nanti kebentor tembok. Kucium pipinya. Dia melenguh dan meronta-ronta melepaskan diri. Tapi matanya masih terpejam. Mungkin dia geli kena kumisku yang sudah mulai tumuh tak teratur ini.

Rosa tertidur pulas di sampingnya. Wajahnya terlihat lelah. Tapi kelihatan damai. Mimpi apa ya dia saat ini? Aku menghela napas. Perlahan aku menciumnya. Dia bergeming.

Aku teringat wajahnya yang penuh kebahagiaan ketika dia membelikan kalung, cincin, jepitan rambut buat Detha tadi siang. Aku tidak bisa melupakan eskpresi kegembiraannya ketika dia ‘traktir’ Angga beli baju putih untuk Krisma beberapa waktu yang lalu. Dan juga ketika dia membelikan kami semua kentang dan ice cream. Ya. Kegembiraan yang tidak bisa disembunyikan, ketika dia bisa membeli semua itu dengan hasil usahanya sendiri berjualan kue-kue lebaran. Pasti saat ini dia kecapaian setelah hampir satu bulan penuh berkutat dengan tepung dan open.

Perlahan aku rapikan kain pantai yang selalu dipakainya sebagai selimut ketika tidur. Aku menciumnya sekali lagi. Sejenak terasa ada yang menyesaki dadaku. Aku berdiri di pojok kamar dan memperhatikan mereka berdua.

Pikiranku melayang pada jagoanku yang saat ini ada di asrama Seminari. Pasti saat ini dia juga sedang tidur. Semoga saja dia tidak lagi jatuh dari tempat tidurnya di atas (tempat tidurnya bertingkat dan kebetulan dia kebagian di atas), seperti pernah terjadi beberapa waktu yang lalu.

Aku menutup pintu perlahan-lahan dan keluar kamar.

Duduk di depan komputerku. Lagi. Sampai pagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 34,601 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: