kuceritakan pada dunia

Bapak malu ya?

Posted on: 26 Oktober, 2007

Rosa & DethaJalan proklamasi sudah mulai lengang. Kendaraan hanya satu dua yang melintas di jalanan depan kantor saat itu. Hampir mitnait, ketika aku berpamitan kepada seorang satpam yang terkantuk-kantuk di pos depan. Aku pulang malam lagi. Dan itu artinya aku tidak pulang ke cibinong tapi pulang ke matraman ke rumah mertua.

Aku mulai berasa bahwa aku demikian jahat. Dengan alasan rumah jauh, aku seringkali memilih menggeletak sendirian di depan tipi daripada bertemu dengan keluargaku. Bercanda dengan Detha. Atau saling bertukar cerita dengan Rosa.

Aku ingat ketika dulu pertama kali pindah ke Cibinong sekitar 10 tahun yang lalu. Jam setengah empat pagi dah bangun langsung mandi. Jam 5 kurang seperempat dah menuju ke jalan raya (waktu itu kami tinggal di bagian dalam komplek perumahan) menunggu angkot. Kadang-kadang berjalan lebih jauh lagi supaya bisa ikut bis jemputan karyawan yang bayarnya lebih murah.

Pulangnya aku ikut berdesak-desakan di bis supaya segera sampai di UKI. Di sana aku masih harus berebutan di tengah jalan supaya bisa ikut naik bisa karyawan yang tidak berani minggir. Kami harus masuk ke dalam bis yang berjalan pelan di tengah keramaian jalan di UKI.

Setidaknya, dulu, aku masih bisa selalu ikut doa Rosario setiap bulan Mei dan bulan Oktober. Walaupun ada kalanya kdang-kadang telat dan seringkali hrus langsung menuju ke tempat doa tanpa sempat mampir ke rumah dan mandi dulu. Hehehehe

Tapi sekarang, ketika angkutan umum makin banyak aku malahan seringkali tidak pulang. Dan selalu menggunakan alasan capek. Mungkin aku memang capek. Aku toh tidak bisa melawan usia yang terus bertambah. Dan hari-hariku menjadi seperti bujangan yang indekost dan pulang setiap akhir pekan.

Huh. Kadang aku berpikir juga, kehidupan macam apa yang sedang kujalani sekarang ini?

Detha nelponAku ingat, ketika kemarin sore aku nelpon, yang menerima Detha. Setelah berhalo-halo dan bercerita mengenai sekolahnya, Detha melontarkan pertanyaan kepadaku.

“Bapak … nanti bapak pulang enggak?”

“Belum tahu nak. Ntar liat aja. Sore hujan apa enggak. Kalo hujan kayaknya bapak pulang kerumah uti (eyang putri) aja ya …”

“Kenapa sih kalo hujan ke rumah uti. Bapak pulang aja. Gak apa-apa kalo bajunya basah. Kan sampai rumah tinggal mandi terus ganti baju deh.”

“Iya deh.”

“Jadi nanti pulang?” Detha masih bertanya. Meminta kepastian.

“Ng … ntar liat aja ya … ” Aku masih mencoba mengulur jawaban.

“Bapak tuh kalo ditanya gak jelas. Ang – eng terus. Bapak malu ya?”

HAH? Malu? Malu sama siapa?

“Malu kenapa? Malu sama siapa?”

“Habis bapak kalau ditanya jawabnya gak jelas gitu. Itu kan namanya malu.” Oalah. Mungkin yang kamu maksud ragu nak. Bukan malu.

Yang jelas saat ini bapak merasa kangen banget.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 34,589 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: