kuceritakan pada dunia

Belajar sabar itu susah

Posted on: 2 November, 2007

marah

“SABAR GIMANA? LEBIH SETENGAH JAM UDAH NGANTRI NEEH!!!”

Aku sedang berjubel dengan puluhan orang lain yang sedang menunggu kedatangan bus transjakarta di terminal Kampung Melayu, ketika tiba-tiba seorang anak muda dengan badan tinggi besar sedang berteriak-teriak marah ke arah seorang petugas di pintu yang satu lagi. Petugas bertubuh mungil di depannya, berseragam lusuh dan mukanya sudah kelihatan capek, berusaha menjawab dengan tenang. “Iya mas. Kami tutup pintunya dulu biar gak saling dorong-dorongan. Takutnya nanti yang paling depan terdorong dan malah jatuh.”

“Situ sih enak. Gak ngantri!” Si kekar masih saja kelihatan belum puas dengan jawaban yang diberikan.

Duuh ….

Aku kadang-kadang bingung. Kenapa orang selalu saja terburu-buru dan bawaannya marah-marah melulu ya. Di jalan, pengendara motor seakan berpacu dengan waktu dan berlagak seolah yang punya jalan. Pengemudi angkutan umum, walaupun sering kali berhenti sembarang tempat dan cenderung berlama-lama untuk menunggu penumpang, tapi kalau sudah jalan, seperti orang yang sudah tidak bisa menahan hajat ke belakang. Dan ini lagi …

Ngapain sih pakai marah-marah dan teriak-teriak seperti itu. Suasana yang sudah panas tentunya tambah gak nyaman kalau ada yang marah-marah gitu. Aneh. Masa petugas dibentak – kamu sih gak ngantri! -. Lha memang petugasnya mau ke mana disuruh ngantri segala? Aya-aya wae …

Padahal ada benarnya juga sih yang dikatakan petugas itu. Halte bus transjakarta itu kan tinggi. Dan bukan hal yang aneh, pada saat berebutan mau masuk ke bus, orang cenderung saling dorong. Bukan mustahil yang paling depan bisa saja terdorong jatuh, karena memang tidak ada pegangan atau penahan sama sekali.

Padahal kalau saja mau sabar, pasatilah gak jauh berbeda. Tidak akan lebih cepat. Dan aku rasa tidak perlu marah-marah seperti itu. Toh bukan salah petugasnya, kalau penumpang yang akan melanjutkan perjalan dari terminal Kampung Melayu membludak seperti itu. Bukan pula termasuk tugas utamanya, bagaimana mengatur supaya bus selalu tersedia dalam jumlah mencukupi untuk mengangkut penumpang jika dibutuhkan.

Pastinya akan lebih mudah untuk petugas di terminal, apabila penumpang rapi dan tertib. Bus mencukupi sehingga penumpang bisa langsung terangkut dan tidak perlu berjejal antri seperti sarden. Begitulah keadannya sekarang ….

Aku melihat bus berikutnya sudah maju. Giliran kami naik sekarang, setelah hampir 20 menit berdesak-desakan di terminal yang panas ini. Aku memandang bus warna merah kuning menyolok itu membuka pintu samping. Penumpang sudah mulai masuk. Tapi? Lhoo … Lhooo.

Kenapa pintu halte di depan kami masih tertutup. Penumpang yang naik dari pintu bus di depan sudah mulai memenuhi bagian belakang bus. Whoii buka pintunya. Brengsek nih. Gak ngerti kami sudah mandi keringat gini apa?

Tak sabar aku menggedor pintu halte sekuatnya. Buka !!! Buka!!! Petugas di balik pintu menoleh kaget. Dari balik kaca aku melihat bibirnya berucap, sabar pak … sabar. “SABAR GIMANA? NGANTRI DAH SETENGAH JAM NIH. BUKA HOOOIIII !!!!! Aku berteriak kalap. Petugas di balik kaca kelihatannya juga terpancing emosinya mendengar aku berteriak-teriak. Matanya melotot ke arahku, seakan aku anak kecil yang bikin gaduh dan mengganggu tidur siangnya. Aku makin muntab.

Aku sudah mau menggedor pintu halte itu lagi. Mungkin sudah aku tendang pintu halte itu kalau tidak saja dihalangi oleh seorang bapak di sebelahku. Aku menoleh. Dan aku benar-benar kaget. Bapak yang memakai baju batik lusuh itu, wajahnya mirip banget sama bapakku.

Badannya kecil, tidak sampai pundakku. Walaupun wajah tuanya dipenuhi kerutan namun tidak sanggup menghilangkan kebijakan yang memancar dari matanya. Beliau masih memegangi tangan kiriku dan menyunggingkan senyum lembut sarat makna. Ada keteduhan di sana. Ada kedamaian dalam senyum itu. Dan aku diam. Selintas aku menangkap ada rindu di dalam mata tua itu ….

Aku larut dalam malu yang membelit hatiku.

Belajar sabar itu memang susah ….

3 Tanggapan to "Belajar sabar itu susah"

Dulu sebagai bangsa yang ramah, sekarang jadi bangsa pemarah.😦

Di fotonya
om yang mana sih?😀

@ imcw : apakah watak bangsa (kita) memang berubah?
@ petak : waaaah. itu kan photo sekedarnya saja ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 34,589 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: