kuceritakan pada dunia

Aku mau bunuh diri

Posted on: 6 November, 2007

kematian.jpgMalam terasa sepi. Hujan yang dari siang mengguyur bumi Cibinong masih menyisakan hawa dingin. Terdengar isak tangis perlahan. Pasti dia yang menangis. Selalu begitu. Kalau sedang berdoa, bisa dipastikan akan ada nangisnya. Sudah biasa sebenarnya. Hanya yang tidak biasa adalah ketika selesai berdoa.

Masih dengan suara setengah menangis dia bilang, “Aku mau bunuh diri.”

HAH?

Rosa yang juga baru selesai berdoa sontak berdiri menyalakan lampu kamar dan langsung menghampiri Detha. “Gimana?” Rosa bertanya dengan hati berdebar.

“Di kali.” jawab Detha pendek. Mungkin dia denger ibunya bertanya ‘di mana?’

“Di kali mana? Mau ngapain?” Rosa bertanya sambil membetulkan kain pantai yang menutupi kaki Detha. Ada rasa was-was juga, karena rute yang harus dilalui ke sekolah melewati pinggiran kali.

“Ya di kali aja.” Detha menjawab serius.

“Emang kenapa sih, mau bunuh diri segala?”

“Habisnya, ibu galak dan marah-marah terus.” Jawabnya masih dengan mimik serius.

“Heh. Kamu baru nonton sinetron apa sih?” tanya Rosa sambil menciumi pipinya.

“Ada dech ….'” Detha menjawab sambil tertawa kegelian.

***

Entahlah. Aku juga kadang-kadang bingung kalau melihat cara ngomongnya Detha. Dulu dia selalu menyebut namanya. TIdak pernah menggunakan kata ‘aku’. Sekarang, bahkan – kadang-kadang Detha berbicara menggunakan kata ‘kamu’ dan bukan memanggil Bapak seperti biasanya. Tapi ya tetap aja wagu. Aneh. Dan kadang dia langsung tertawa geli kalau ‘kelepasan’ ngomong pakai kata kamu, karena terasa anehnya.

Pengaruh sinetron memang sangat parah. Aku tidak tahu, dari sinetron mana Detha dapat ide seperti itu. Bunuh diri. Dulu sewaktu salah seorang teman bunuh diri (Detha juga kenal baik, karena hampir tiap minggu kami nongkrong di rumahnya), bahkan dia ikut ke kuburannya, tidak pernah ada perkataan mau bunuh diri segala.

Dan itulah yang disampaikan Rosa ketika aku baru sampai malam itu. Detha sendiri langsung sibuk membuka tas plastik berisi bingkisan ulang tahun dari temanku di kantor.

Setelah bebersih diri, aku masuk ke kamar. Detha sudah mengosongkan tas tempat bingkisan itu dan mengisinya dengan buku dan alat tulis sekolahnya. Dia bilang mau ke sekolah pakai tas itu besok. Rosa menyalakan lampu kamar. (Biasanya lampu kamar dimatikan kalau kami sudah siap untuk tidur). Aku berbaring di sampingnya.

Detha kalau sedang berdoa, tidak bisa tidak, pasti menangis, kalau doanya sudah sampai mohon ampun atas semua kesalahan, mohon ampun karena sudah menyakiti orang lain dan .. pokoknya kalau sudah mulai doa yang sedikit sedih, dia pasti nangis. Bahkan waktu doa Bapa Kami, ketika sampai pada bagian .. ampunilah kesalahan kami …, dia selalu menangis. Gak tahu kenapa.

“Eh … udah doa belum? Mau doa bareng bapak atau doa sendiri?” aku membuka percakapan sambil mengelus rambutnya yang sudah mulai gondrong.

“Udah tadi.” Jawabnya singkat.

“Eh .. tadi katanya habis doa mau bunuh diri ya?”

Hehehe. Dia tidak menjawab dan hanya cengengesan.

“Emang kenapa mau bunuh diri segala? Gak enak lagi bunuh diri itu.”

“Emang kenapa pak?” Tangannya meraih guling kesayangan yang di ujungnya ada ‘kuncir’nya itu. Lalu dia menyibukkan diri dengan menciumi kuncir bekas itu.

“Hm … Gini. Kalau bunuh diri itu kan berarti orangnya mati.” Detha mengangguk.

“Nah kalau mati, berarti kan dikubur. Nah dikuburan kan sepi. Ingat gak waktu pak F*** meninggal terus dikubur?” Detha mengnagguk lagi. Tangannya masih sibuk mengoles-oleskan kuncir kesayangan ke hidungnya.

“Terus, adiknya Er*** teman kamu itu, … yang juga dikubur di … mmm mana tuh? Di pondok rajek. Itu kan setelah dikubur lalu ditinggal sendirian. Emang enak. Nanti kalau dia mau minta minum, minta ama siapa hayo? (Detha kalau malam hari suka minta minum).”

“Iya ya .. Terus adiknya teteh Ay* itu juga ya pak … Terus gak bisa berdiri ya. Kan kotaknya itu sempit ya …. Kalau malam di kuburan ada lampu gak sih?” gantian dia yang nyerocos.

“Ya gak ada lampu lah. Lagian kan dikuburnya di dalam tanah. Tetep aja gelap. Lampunya gak nyampe.”

“Lagian … bilang mau bunuh diri segala, habis nonton apa sih?” Detha tidak menjawab, hanya senyum-senyum aja.

“Pasti habis nonton sinetron ya?” Detha mengangguk.

“Emang sinetron apa sih?”

” Ada dech …”

Ya dah. Selamat bobo cinta ….

4 Tanggapan to "Aku mau bunuh diri"

Hihihi…
Pengaruh sinetron sangat kuat ya?
Benar-benar diperlukan bimbingan orang tua.

GBU

[…] November 9th, 2007 — pam Baru saja Detha mempertontonkan begitu besar dan kuatnya pengaruh sinetron pada anak-anak, tadi siang ada cerita mengenai ‘korban sinetron‘ […]

Lebih baik ,mendekatkan diri . .kepada allah swt.

Akh,. kadang susah juga yach mas,.. media hiburan (seperti sinetron) kadang kala tidak memberikan suatu pemikiran yang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 34,601 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: