kuceritakan pada dunia

Sejenak menyapa pagi

Posted on: 27 Desember, 2014

image

TPU Pondok Rajeg - Cibinong

“Tumben sendirian.”

Aku mendengar suara ibu. Ibu mertuaku.

Aku langsung berdiri. Kuraih dan kucium punggung tangannya. Dingin. Mungkin karena masih pagi. Sekilas aku memandang wajahnya.

“Ibu rapi banget. Wangi lagi. Parfum melati ya bu?” Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku malahan balik bertanya

Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung memeluknya. Aura dingin menjamah wajahku. Menjalar ke seluruh bagian tubuhku yang lain. Hmm…  harusnya aku pakai jaket.

“Ibu mau ke mana?” Kutarik ibu duduk di sampingku. Wangi melati makin menguar. Memabukkan. Sekaligus mendamaikan.

“Ibu lagi jalan-jalan aja. Setiap pagi juga ibu jalan-jalan.” Aku melihat ke arahnya. Wajahnya tampak segar. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Kebaya yang dipakainya bernuansa kehijauan. Sekilas aku langsung teringat dengan photonya di kamar belakang. Hanya saja aku tidak yakin, apakah bajunya di photo itu berwarna hijau atau bukan.

Wangi melati makin menyengat.

“Terus ibu liat nak Muji. Tumben sendirian.”

“Saya kan juga sering datang sendirian bu.” Aku memang beberapa kali datang sendiri ke sini. Mencabuti satu dua rumput yang tumbuh dan terlihat mengotori di sekitar kayu salib. Atau memanggil orang lain untuk membantu merapikan, jika rumputnya sudah terlalu banyak dan sulit untuk dicabut dengan tangan.

“Iya. Cuma biasanya langsung mampir ke ibu dulu. Dan bukan langsung duduk bengong di sini.” Ups…

“Ada apa? Nak Muji lagi ada masalah?”

Aku memandang ke depan. Jalanan di depan kami lengang. Mungkin hari ini bukan hari kunjungan ke lapas. Biasanya jalan ini ramai lalu lalang para pengunjung.

Aku merasakan elusan di rambutku. Lembut. Wangi melati memenuhi hidungku. Baunya lembut. Menenteramkan.

“Manusia akan selalu mempunyai masalah. Itu tandanya nak Muji masih hidup,” ibu melanjutkan perkatannya sebelum aku sempat menjawab.

Aku menoleh. Kulihat beliau yang sekarang melihat ke seberang. Hawa makin dingin. Gerimis melayang perlahan.

“Orang-orang yang sudah mati, tidak berarti tidak punya masalah. Hanya saja kami tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah itu. Hanya yang masih hidup, yang masih mempunyai kesempatan menghadapi masalah dan mengusahakan penyelesaiannya.”

Aku melihat matanya berkaca-kaca. Atau terkena tampias gerimis yang makin besar? Aku mengusap keningku yang tiba-tiba terasa basah. Rupanya hujan bertandang bersama angin.

“Sebenarnya bukan masalahnya yang jadi persoalan. Tapi cara nak Muji menghadapi dan menyelesaikan masalah, itu yang lebih penting. Masalah besar, kadang kala akan segera hilang, kalau dihadapi dan ditangani dengan tepat. Sebaliknya…  masalah sepele, bisa menjadi makin runyam, kalau disikapi secara berlebihan.”

Ada bau menyengat. Bukan. Kali ini bukan wangi melati. Lebih mirip bau minyak angin.  Kepalaku tiba-tiba berasa pusing.

“Sudah pulang sana,” ada nada mengusir dalam suaranya. Aku merasa tanganku digenggam.

“Masih banyak tugas nak Muji. Ibu nitip anak ibu. Dan juga cucu-cucu ibu. Jangan keseringan berpikir yang enggak-enggak. Jangan mendahukui takdir Tuhan. Nak Muji harus kuat.”

Kepalaku makin pusing. Aku tidak pasti, apakah pusingnya karena mendengar kata-kata yang disampaikan ibu atau karena bau minyak angin yang semakin kuat.

Aku memandang wajah ibu. Kali ini wajahnya benar-benar mirip dengan photo di rumah. Photo yang kami pasang di kamar belakang. Kamar yang ditempati ibu, sampai beliau meninggal.

Kepalaku semakin pusing. Wangi melati berangsur sirna. Minyak angin makin menyengat. Hidungku mulai terasa panas. 

“Terima kasih karena nak Muji mau nengokin ibu.” Suara ibu menjadi samar-samar terdengar. Badanku tiba-tiba lemas. Aku merasa sama sekali tidak ada tenaga.

Bahuku berasa diguncang-guncang dengan keras. Bau minyak wangi makin keras menyengat. Telingaku menangkap suara hujan lebat. Keras dan jelas. Hujan deras.

Aku membuka mataku dengan nanar. Reflek tanganku menepis bau minyak angin dari mukaku. Pandanganku terpaku dengan wajah seorang bapak yang sama sekali belum aku kenal. Tangannya menggenggam sebelah tanganku.

“Bapak mau berziarah atau mau nengok saudara di lapas?” Di tangan lainnnya ada sebotol minyak angin yang masih terbuka…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 34,589 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: