kuceritakan pada dunia

Ulang tahunku

Tadi pagi sih biasa-biasa aja sih. Sampai siang dan juga sore tapi waktu bapak pulang, aku minta dibeliin bubur. Padahal aku gak minta ke idolmart. Mungkin karena bapak punya uang atau gara2 aku ulang tahun, aku dibeliin alat tulis dan jepit.

Pertama baru masuk sebenarnya pengen beli diary tapi kata bapak belinya di gramedia. Gak papa sih. Ya udah terus aku sama bapak pulang. Waktu ngelewatin indomaret bapak pengen fanta kuning untung aku kasih tau kalo ibu bif bikin teh. Kalo enggak gimana tuh? Tapi sayang ibu sakit.

Ya udah deh udah dulu ya


aku comot dari 'buku harian' bidadari

Iklan

Aku sudah mulai terasa ngantuk sejak sore. Dan juga capek. Opera Van Java yang biasanya masih mampu menyedot perhatian, kali ini tidak mampu mengalahkan kantuk yang benar-benar terasa. Aku pasrah. Melepas kacamata dan langsung menyerahkan diri pada lelap yang memang sedari tadi sudah menunggu.

Mungkin karena aku lupa untuk berdoa dan mungkin juga karena kondisi badan yang sedang lelah luarbiasa, aku langsung disergap mimpi yang tidak jelas. Orang-orang berteriak dan berlari panik ditingkahi bunyi alarm yang memekakkan telinga. Alarm itu masih menjerit-jerit ketika aku berasa sudah terjaga dengan badan yang bersimbah keringat.

Aku langsung duduk dengan kepala yang terasa pusing. Keliyengan. Jerit alarm itu kembali terdengar. Dengan kepala terasa nyut-nyutan, aku mencari sumber jeritan itu. Kesadaranku masih belum pulih sepenuhnya, ketika menyadari bahwa yang menjerit dari tadi adalah telepon rumah. Deringnya memang diatur pada posisi maksimal, supaya kalau kami kebetulan sedang ada di luar rumah masih bisa mendengar kalau ada yang menelepon.

Aku menyambar kacamata dan dengan terhuyung mengangkat telepon. Kulirik jam dinding. 00:30. Lewat tengah malam. Pasti telepon penting. Dan telepon penting pada jam-jam segini biasanya adalah kabar duka cita. Tiba-tiba aku merasa benar-benar terjaga.

Baca entri selengkapnya »

x18048084Jalanan gelap. Hujan lebat baru saja berhenti setelah hampir setengah hari mengguyur bumi dengan derasnya. Membuat jalanan yang kami lalui menjadi genangan lumpur. Hujan pula yang membuat kami harus pulang kemalaman.

Sepanjang perjalanan dia menggandengku. Tanganku erat dalam genggamannya. Hangat. Sedangkan tangan yang satunya lagi dipakai untuk menggendong adikku. Kami berjalan perlahan. Genangan air di sana-sini tidak memungkinkan kami untuk jalan bergegas. Sepanjang perjalanan kami tidak berpapasan dengan siapapun. Desa kami tak ubahnya desa mati begitu malam menyapa hari.

Ketika kami hampir sampai, adikku diturunkan dan dia menawarkan aku untuk digendong. Aku canggung. Tapi juga senang. Siapa sih yang tidak senang digendong oleh orang yang kita sayangi dan hanya jarang-jarang kita temui? Begitulah. Aku langsung diangkat dan naik ke pundaknya.

Sejenak aku merasa melayang. Sedikit gamang. Mungkin karena aku takut ketinggian. Aku melihat adikku sudah berjalan menuju ke arah rumah. Masih kudengar lelaki yang menggendongku berteriak kepada adikku dan memperingatkan untuk berjalan hati-hati karena jalanannya licin.

Tiba-tiba – sekali lagi aku merasa melayang. Belum sempat aku menyadari apa yang terjadi, pundakku terasa membentur sesuatu yang keras. Dan mukaku tiba-tiba saja sudah penuh lumpur. Aku tidak ingat apakah aku menangis saat itu atau tidak. Tetapi yang aku ingat, laki-laki itu sudah bangun lagi dan langsung memapahku ke arah rumah. Belakangan aku baru tahu, bahwa kamilah yang jatuh di depan rumah itu dan bukan adikku.

Dan di dalam rumah, aku masih mengingatnya dengan jelas, lelaki itu sibuk membersihkan aku dan memeriksa seluruh bagian tubuhku. Dan tidak menyadari di bagian lututnya, celananya memerah. Berdarah.

***

Lelaki itu adalah bapakku. Beliau menjalani operasi setelah sekian lama tertunda-tunda. Betapa ingin aku bisa mengenggam tangannya lagi. Atau sekedar berjaga di sampingnya.

Tetapi tidak.

Aku [masih] ada di sini. Berusaha menata hati dan berharap semua ‘kan baik-baik saja.

lumayan panik ...

lumayan panik …

Aku langsung menyambar helm dan memakainya. Dengan tidak sabar, aku memacu shogy ke luar komplek perumahan. Begitu sampai di jalan aspal, aku memaksa shogy berlari sekencang mungkin.

Jalanan yang masih sepi, membantuku menunggangi motor dengan kecepatan tidak seperti biasa. Bahkan ketika di perempatan pemda Cibinong ke arah stasiun, aku sempat menggeber tungganganku sampai 80 km/jam.

Aku kesetanan. Targetnya … aku tidak boleh mengacaukan kencan perselingkuhanku yang pertama ini.

Tidak sampai 20 menit, aku sudah mencapai daerah di sekitar stasiun Bojong Gede yang memang aku sudah survey sehari sebelumnya.  Aku langsung menuju ke salah rumah penitipan motor yang memang banyak terdapat di situ.

Ketika motor sudah aku parkir, aku diam menunggu karcis atau tiket penitipan motor. Tapi penjaganya malah ke bagian lain dari ruangan penitipan motor dan membantu orang yang baru saja masuk. Kulihat orang tadi langsung meninggalkan motornya dan langsung ke luar lagi?

Aku masih bingung. Apakah memang nitip motor di sini tidak diberikan lembar bukti penitipan? Terus, bagaimana nanti pengambilannya? Ah. … aku kan bawa STNK. Jadi kalau memang dia lupa sama aku, aku pasti bisa mengambil motor dengan menunjukkan STNK motor.

Berpikiran demikian, aku langsung menuju ke luar tempat penitipan untuk menuju stasiun, ketika tiba-tiba aku mendengar penjaga penitipan berteriak memanggilku.

“Pak! Helmya gak ditinggal?”

Hah? Saking bingungnya, aku lupa melepas helmku ketika ke luar.

Duuuuh …

Baca entri selengkapnya »

bulutangkis

kalah itu menyakitkan

Aku tidak kuasa untuk melihatnya. Beberapa kali aku menunduk. Sesekali aku bertepuk tangan memberikan semangat. Tenggorokanku tersedak. Tercekat.

Kadang aku ingin berteriak kepada mereka. Sekedar memberi arah. Agar keadaan tidak semakin parah. Tapi aku tidak mampu. Atau mungkin juga karena aku sebenarnya tidak tahu.

Sesekali aku memandang Detha yang ikut cemas. Sedari tadi bidadariku cerewet bertanya. Menang yang mana pak? Keluar atau masuk pak? Dan tiba-tiba aku menjadi orang yang paling tidak sabar menghadapi pertanyaannya. Duh jangan tanyakan apa-apa dulu anakku.

Sekali waktu, mereka bersamaan memandangku. Dengan muka penuh peluh, mereka seakan bertanya kenapa aku tega menyiksanya seperti itu. Wajah mereka lelah. Mungkin juga memendam marah. Ah .. semoga saja tidak.

Diam-diam aku menangis. Dalam hati. Setiap kali mereka dihantam, aku menjerit lirih. Pedih. Tiap kali perlawanan mereka dimentahkan, aku merasakan sakit di ulu hati. Mereka memang yang bermandi peluh. Tapi aku merasa, bahwa kekalahan yang ada adalah kekalahanku.

Semuanya dimulai ketika undangan itu tiba …

Baca entri selengkapnya »

buru-buru nich ...

maaf, buru-buru …

Akhirnya, aku berselingkuh juga. Dengan tekat bulat dan niat yang mantap, aku memulai perselingkuhan di akhir bulan Juni yang lalu. Kami janjian ketemu pagi buta, jam setengah lima. Ketemu di depan Indomaret di deket gerbang perumahan. Sip!

Tapi karena ini adalah selingkuh pertamaku, malamnya aku malah tidak bisa tidur. Aku masih bisa melihat jam menunjukkan pukul tiga pagi – berarti jam segitu aku belum tidur. Alarm hape yang aku pasang di 04:45, rupanya tidak mampu menyeretku dari lelap.  Begitu dia melengking, kugerayangi sebentar lalu aku matikan. Kulempar agak jauhan dari tempat tidur.

Berisik banget!

Dan aku meneruskan tidur lagi. Aku baru benar-benar terbangun, ketika hapeku menjerit lagi. Kali ini aku harus bangun dulu untuk menjangkau hape yang rupanya terlempar agak jauh. Tapi ini juga yang membuatkku jadi lebih tersadar walaupun masih setengah keliyengan. Ada SMS. Siapa ya?

Kuraih kacamata di dekat tipi. Pesannya singkat. Yaiyalaaaah .. Namanya juga SMS.

“Saya sebentar lagi sudah mau jalan. Ketemu di depan Indomaret ya?”

Gubrakz!! Kesadaranku langsung pulih.  Dengan panik aku bangun dan menyambar handuk. Aku tidak mau selingkuh pertama ini berantakan gara-gara aku telat janjian. Baca entri selengkapnya »

cari - cari selingkuhan

cari - cari selingkuhan

Aku tidak pernah berpikiran untuk selingkuh. Sekedar lirik kanan lirik kiri, sekali waktu terjadi juga. Bukan karena takut dosa. Atau gak enak sama tetangga. Atau gak tega sama pasangan yang selama ini (gak yakin juga sih) selalu setia.

Tetapi … keadaan yang memaksaku untuk memikirkan perselingkuhan. Kalaupun aku berselingkuh, berarti karena terpaksa.

Halah … selingkuh kok terpaksa.

Sebenarnya aku masih mencoba bertahan dalam hubungan ini. Tapi rupa-rupanya, tidak mudah untuk menerima perlakuan yang benar-benar menempatkan aku ke derajat yang paling rendah. Perlakuan yang membuat aku merasa tidak dibutuhkan sama sekali.

Tidak dihargai!!!

Dihinakan !!

Apa lagi ya kata yang bisa melukiskan hubungan kami?

Baca entri selengkapnya »

RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 35,744 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: