kuceritakan pada dunia

Posts Tagged ‘hari-hari

Rumah Sakit Umum A. Yani.
Metro – Lampung Tengah.

Saat itu aku masih tercatat sebagai salah satu siswa di Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Beberapa kejadian masih teringat sampai sekarang. Atau teringat lagi tepatnya …

Seorang laki-laki lusuh yang kelihatan sekali orang kampung. Berdiri kebingugan tidak tahu di mana dia harus mendaftar untuk berobat.

Sepasang suami istri – setidaknya begitulah menurutku – berdiri kebingungan di depan apotik karena uangnya kurang untuk menebus resep obat.

Seorang pemuda datang dan bertanya, apakah test laboratorium ini memang harus dilakukan? Kenapa? Biayanya saya gak punya mas.

Kali lain, orang yang lain lagi, berdiri kebingungan di dekat kantin Rumah Sakit. Istrinya harus dirawat … tetapi dia tidak membawa memiliki uang.

***

Sore ini, aku teringat kembali kejadian – kejadian itu.

“Maaf mbak, uangnya gak ada kalau  265 ribu. Tadi udah dipakai untuk bayar pendaftaran”
“Adanya berapa?”
“Cuma ada 200 ribu mbak.”
Perempuan petugas apotik itu menghilang. Tidak lama kemudian dia balik lagi.
“Ya sudah. Seratus sembilan puluh lima saja.”
“Dengan harga segitu, obat apa yang belum ketebus ya mbak?”
Wanita itu memandang laki-laki di depannya seakan melihat manusia berkepala kuda.
“Katanya uangnya gak cukup. Gimana sih?” Kali ini suaranya agak meninggi.

Laki-laki itu kembali ke tempat duduk. Masih setengah bingung. Apakah obatnya yang dikurangi atau memang harganya bisa kurang.

Percakapan berikutnya.

“Pak … ini dibawa ke laboratorium. Bayar dulu ke tempat pendaftaran yang tadi ya …”
Laki-laki itu menemui tetangga yang mengantarnya ke rumah sakit. Setelah bicara bisik-bisik, dia kembali ke tempat pendaftaran dan membayar biaya laboratorium.

“Pak … silahkan dibayar biaya rongetn-nya, lalu nanti kembali ke sini dan ibu langsung dipindah ke ruang ruang rawat inap.”

Lagi-lagi berulang. Kali ini lelaki itu menerima uang dari anak sang pengantar. Di tangannya masih ada resep – infus – yang harus ditebus.

Sore ini aku teringat lagi kejadian-kejadian Itu.
Bedanya .. kali ini – akulah laki-laki itu.

lebih baik kita diam …
dan menyimpan kata dalam dada

dunia memang tidak cukup mudah
untuk bisa kita pahami
hanya dalam satu kata

ada baiknya jika …
kita sama-sama diam
dan mencumbu malam
aku lelah …
langkah semakin tanpa arah

lebih baik kita diam …

entahlah …

kematian.jpgMalam terasa sepi. Hujan yang dari siang mengguyur bumi Cibinong masih menyisakan hawa dingin. Terdengar isak tangis perlahan. Pasti dia yang menangis. Selalu begitu. Kalau sedang berdoa, bisa dipastikan akan ada nangisnya. Sudah biasa sebenarnya. Hanya yang tidak biasa adalah ketika selesai berdoa.

Masih dengan suara setengah menangis dia bilang, “Aku mau bunuh diri.”

HAH?

Baca entri selengkapnya »

marah

“SABAR GIMANA? LEBIH SETENGAH JAM UDAH NGANTRI NEEH!!!”

Aku sedang berjubel dengan puluhan orang lain yang sedang menunggu kedatangan bus transjakarta di terminal Kampung Melayu, ketika tiba-tiba seorang anak muda dengan badan tinggi besar sedang berteriak-teriak marah ke arah seorang petugas di pintu yang satu lagi. Petugas bertubuh mungil di depannya, berseragam lusuh dan mukanya sudah kelihatan capek, berusaha menjawab dengan tenang. “Iya mas. Kami tutup pintunya dulu biar gak saling dorong-dorongan. Takutnya nanti yang paling depan terdorong dan malah jatuh.”

“Situ sih enak. Gak ngantri!” Si kekar masih saja kelihatan belum puas dengan jawaban yang diberikan.

Duuh ….

Baca entri selengkapnya »

RosaSore itu aku sedang bercengkerama dengan Active Directorynya Windows Server 2003 di ‘ruang operasi’, ketika ada telpon dari Rosa. Wah .. sudah pulang rupanya dia dari jalan-jalan ke Bogor. Belanja apa aja ya dia ? Hehehehe

“Hallo? Gimana jalan-jalannya?” aku menyapa dengan antusias.

“Ini baru nyampe. Capek. Aku tadi ke jalan Beo yang pernah aku ceritain dulu, tapi ternyata udah gak ada.”

“Hah? Jalannya ilang gituh? Siapa yang ambil?”

Baca entri selengkapnya »

Membaca tulisan Malu Dengan Kesibukanku di blognya pak Budi Rahardjo, aku tertarik untuk mencoba melihat diriku sendiri. Apa saja kesibukanku di luar kerjaan kantor ya? Mau ikutan lihat?

Baca entri selengkapnya »

Tergesa aku membereskan barang bawaan dari kantor. Lalu segera mencuci muka dan membasuh kakli dan tangan yang terasa lengket semua. Langsung aku menuju kamar tidur. Aku berusaha keras untuk bisa membuka pintu tanpa menimbulkan suara. Aku menghampiri Rosa dan meneruskan niat menciumnya yang tadi sempat tertunda. Rosa hanya diam dan tidak memberikan reaksi apa-apa.

Lalu aku menuju Detha. Kepalanya panas. Aku meraba bagian perutnya. Hangat biasa. Namun di bagian kaki, khususnya di betis dan telapak kakinya, terasa panas sekali. Bau obat gosok penuh menggantung dalam kamar.

“Sudah dikasih obat belum?” Aku berbisik di telinga Rosa.
“Sudah.” jawabnya pendek.

Aku kembali menghampiri Detha, lalu aku cium pipinya. Seperti biasa dia menggeliat dan berusaha melepaskan mukanya. Pasti kena kumis. Lali aku menempelkan pipiku ke badannya. Kali ini dia diam saja. Lalu seperti biasa, tanganku terjulur ke arah kepalanya. Kali ini aku berdoa agak panjang memohon kesembuhan untukknya sebelum memberi berkat seperti biasanya.

Dengan mengendap-endap aku keluar kamar. Mengambil air dan mendinginkan terngorakanku, lalu duduk di depan meja belajar. Dan aku masih ada di situ setelah 2 jam kemudian.


RSS Catatan Lain

Arsip

RSS Yuk Nulis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kicauan-ku

Blog Stats

  • 35,577 hits
Diabetes mellitus

DIABETES MELLITUS

%d blogger menyukai ini: